Sabtu, 26 Juli 2014

[FF] - Kosong

Patah hati jelas bukan hal yang mudah, itu sering kali membuat kita kacau. Kehilangan selera makan, kehilangan hasrat ingin melakukan apapun. Menatapi yang berhubungan dengan dia lama-lama, dan merasakan perih di ulu hati yang teramat sangat.

Aku duduk, menghadap jendela di sebuah caffe tua pinggir kota. Mozaik-mozaik hujan tampak kabur di mata, iya di mataku pun kini sedang ada genangan serupa. Hujan yang turun terasa lebih perih di hati. Aku merasa diriku lusuh, tulang-tulangku lemas, lemah. Aku kehilangan harapan.

Dua puluh empat jam lalu sebuah undangan merobek-robek hatiku, undangan pernikahan seseorang yang masih kuanggap kekasihku, walau kenyataannya dia tidak menganggapku begitu. Tulisan-tulisan yang tersusun begitu menyakitkan mata, menyakitkan hati, menghentikan desir aliran darah dan mengacaukan saluran pernafasanku. Dunia terasa sesak.

Kembali terputar masa-masa dengannya, duduk di caffe tua ini. Caffe tua pinggir kota, di depan sebuah sungai kecil mengalir dekat kampus kami. Dulu kami sering bercengkrama di sini. Aku bahkan masih mendengar tawa kami. Begitu menyakitkan setiap waktu yang berjalan ini.

Udara dingin menusuk tulangku, membuat aku ingin ke kamar mandi. Aku ingin berkaca, mencari rupaku. Seberapa buruk aku terlihat di pantulan itu.

Aku berjalan, tubuhku yang gemuk ini seolah terasa sangat ringan. Andai aku memiliki tubuh seindah gadis itu, gadis yang kini kau sanding di pelaminan bersamamu.

Aku berjalan, bergerak seperti tidak bernyawa, aku tidak berhasrat untuk apapun. Sesampai di kamar mandi, semua sepi. Ruangan ini lebih longgar untuk bernafas, di sebuah pojokan kupandangi gadis kurus pucat. Wajahnya dingin. Tapi aku tidak peduli, begitu pun dia. Aku sedang begitu malas bertegur sapa.

Aku mencari westafel, aku ingin membasuh wajahku dengan air, aku ingin dingin ini bertambah, saat beku orang akan mati rasa, bukan? Aku memutar kran air pada westafel tua yang tak terawat, rasanya begitu keras. Entah aku yang saat ini begitu lemah, berkali-kali aku mencoba, tetap tidak bisa. Aku lelah. Kutegakkan kepalaku, mencoba mencari pantulan buruk rupaku di cermin. Kosong. Tidak ada wajahku di sana.

*

DUA PULUH EMPAT JAM YANG LALU, DI PEMAKAMAN.

"Apa kabarmu? Apa kau sehat? Aku merindukanmu. Kau tahu tahun-tahun begitu berat saat kau tidak lagi bersamaku, aku mengalami patah hati yang sangat. Setelah kecelakaan itu"

Pria itu menarik nafas berat, terus berbicara pada batu nisan yang diam. Batu nisan wanita yang dulu kekasihnya.

"Sayang, aku akan menikah. Aku harap kau tidak bersedih dengan kabar ini, aku akan terus mencintaimu, dia pun tahu aku sangat mencintaimu"

Lelaki itu bangkit, setelah meletakkan selembar undangan penikahannya. laki-laki itu berlalu. Melangkah menjalani hidup baru. Wanita mati itu patah hati tanpa ia tahu.

[FF] - Martabak Telur Betina Simpanan


Mungkin kau belum pernah melihat aku sekacau ini, tapi yakinlah ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga, ini adalah sesuatu yang berkali-kali aku alami, dulu dia yang sebelummu sudah mengetahui betul perangaiku. Aku lebih suka menikmati daging itu segar-segar, dari pada martabak telur petak kecil yang tidak pernah bisa aku sukai, bodohnya kau, kau selalu memberi aku makanan yang kau sukai tanpa peduli aku menikmatinya atau tidak.

Pagi ini, sialnya kau membiarkan aku sangat kacau, aku bermalas-malasan seharian sebagai simpanan yang selalu kau banggakan di depan teman-temanmu yang bermata sama cabul denganmu setiap memandangku, aku tahu kalian lelaki berbirahi binatang yang tidak akan puas walau kepuasan di bumi ini habis. Aku bermondar mandir berharap kau menuruti mau ku. Aku memandang-mandang ke arahmu, tapi kau sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnismu itu. Memuakkan!. Harusnya kau tahu aku sudah lapar dan jenuh menunggumu, botak gemuk.

***

"Dia cantik bukan?", lelaki berperut buncit dengan kepala yang hampir botak, ya kau. Berbicara pada temanmu yang lagi-lagi memandangi aku dengan nafsu binatangnya.

"Sangat cantik, apa aku bisa menyentuhnya?"

"Tidak, dia hanya milikku..hahaha", kau tergelak puas. Aku jijik. Kau tau aku selalu mandi setiap kau selesai menyentuhku, setiap aku selesai memenuhi semua kepuasanmu. Bahkan jika bisa aku mandi setiap satu sentuhanmu mendarat di tubuhku, akan aku lakukan.

"Kau yakin tidak apa-apa menyimpannya di sini? Bagaimana jika istri dan anakmu tiba-tiba kembali dari luar negeri dan mendapatinya di sini"

"Biarlah, aku mencintainya, aku sangat senang melihatnya di rumahku. Menemani aku, walau terkadang perangainya tak menentu. Aku rasa dia bosan jadi simpanan"

"Hahahaha, bahkan macan betina pun tak rela dimadu, apalagi wanita-wanita kita"

"Hahahahaha, kau benar"

***

Tawa kalian mengelegar, dan aku semakin bosan. Ah menjijikan. Lelaki-lelaki tua cabul, jika aku punya kesempatan menumbuhkan taring dan cakarku lain waktu, akan kucabik-cabik daging segarmu lalu kusisakan sedikit daging untuk istrimu, agar dia bisa membuat martabak telur dan mengunyahmu juga karena telah menduakannya.

[Cerita Pendek] - Ayunan


"Layla, Sayang. Layla, anak ibu yang
paling cantik. Layla, Sayang. Layla,
janganlah Layla bersedih...."

Seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluhan, bernyanyi-nyanyi di taman komplek. Pandangan matanya kosong. Ia bernyanyi sambil menyebut-nyebut nama anaknya. Seorang gadis kecil yang kini sudah tiada.

"Laki-laki bangsat! Laki-laki keparat! Kubunuh kau! Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!!" tangisnya memecah
senja, begitu kelam.
Beberapa mata menatapnya iba. Kepedihan seorang ibu akan kematian buah hatinya adalah serenade paling pedih.

*

Semoga pasanganku tidak pernah tahu apa yang berkecamuk dalam hatiku sekarang. Semoga dia tidak pernah tahu perasaanku telah membelah. Gadis itu, aku tidak bisa menghindar untuk memikirnya. Dia begitu berbeda dengan yang lain, memperlakukanku sangat lembut. Lelaki mana yang tidak suka kelembutan?

Aku begitu bahagia tiap senja dapat bertemu dengannya, meski kadang pula gelisah saat dia tidak menghampiri taman. Aku takut dia sakit. Takut dia tidak lagi ingin kemari. Takut aku
melukainya, karena itu dia tidak lagi mau bertemu aku.

Jatuh cinta dan bermain dalam cinta itu sangat mudah,
bahkan saat pasanganmu di samping pun kau bisa melakukannya. Sebab isi hati adalah rahasia.

Tapi gadis ini jauh lebih menarik dari dia yang menemani aku
bertahun-tahun. Ya, mungkin kalian pikir aku jahat. Mengkhianati pasanganku untuk seorang gadis yang baru satu bulan ini aku temui.
Namanya Layla. Dia baru pindah dari kota di mana kemacetan adalah jendela. Kota yang kemanapun kau memandang,
hamparan panjang kendaraan akan
terlihat. Debu dan asap adalah isi paru-paru makhluk kota itu. Layla tinggal tak jauh dari tempat tinggalku, taman bermain.

"Video game, A video game that allures me,
You can't block me. You're in
danger right now, join the video game, Love game...."


PERTEMUAN PERTAMA PADA SUATU SORE


Aku terayun-ayun setelah seorang anak lelaki gemuk menaikiku dengan kasar. Kadang dia berdiri dan meloncat-loncat.

Andai aku bisa melemparnya jauh
agar terjungkal mungkin sudah kulakukan. Aku pun terus-terus berdoa agar rantai pengaitku pada tiang lepas, agar
anak ini berhenti menyiksaku.
Aku melirik pasanganku yang diam dan tenang. Dia sangat kaku, tapi dia adalah pasanganku. Tuhan memberi dia untuk menemani hari-hariku.

Ayunanku berhenti, kulihat tangan kecil seorang gadis. Rambutnya panjang hitam diterpa cahaya senja, wanginya serupa permen karet atau wangi permen-permen enak lainnya.

Dia membersihkan aku dengan tangan lembutnya, menyapu-nyapu lembut. Aku merasakan desiran berbeda. Sesekali aku melirik
lagi pada Inka, begitulah kupanggil dia, pasanganku. Aku harap Inka tidak melihat rona-rona merah di serat-serat kayuku saat Layla menyentuh setiap
jengkalnya. Aku jatuh cinta, pada pemainku.

"Aku mengekalkan rasaku dalam senja
Pada warna emas di hamparan hitam rambut
dan aroma tubuh yang luar biasa
Aku jatuh cinta padamu
Bukan aku yang bermain, tapi kau yang
mempermainkanku
Bagaimana benda mati bisa merasa hidup
Kau pemain cinta yang luar biasa
Aku terjerat!"

*

Aku berdoa agar Layla tidak pernah dewasa. Sebelum dia, aku pernah patah hati pada pemainku, juga. Pada seorang gadis manis, berlesung pipi dalam.

Namanya Dhila. Dia gadis lucu, dulu sering bermain di sini, menemani aku, membersihkan serat-serat kayuku yang kadang diinjaki tapak-tapak sepatu
teman-temannya. Paling lucu dari dia adalah gadis manis itu sering membagi gulalinya, membuat aku merasakan cecap manis dan tak jarang tubuhku dikerubutin semut setelahnya. Dhila pergi. Dhila hanya menjadikan aku persinggahan masa kecilnya. Maka, aku harap Layla tidak pernah besar.

*

Hari ini aku menanti Layla, aku sudah tidak sabar ingin berayun-ayun bersamanya, melihat hamparan putih giginya, tawanya yang seakan bisa menetapkan langit tetap biru, dan genggamannya pada rantai-rantai dingin pengaitku.

Tapi hari ini Layla tak datang. Bahkan hari-hari selanjutnya pun tidak, hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Layla tidak pernah datang.

Sudah satu pekan dari hari terakhir dia bermain di taman ini, meninggalkan bercak darah di kayuku. Aku melirik Inka, tubuhnya sedikit berayun, masih
kaku, bahkan aku tidak bisa melihatnya tersenyum. Sama seperti dia yang tidak bisa melihatku tersenyum. Aku berharap Layla datang.


30 MENIT YANG MEMATAHKAN


"Kasian ya, Bu. Pasti ibunya terpukul
sekali...."

"Ya, jelas lah, Bu. Wong anak perempuan satu-satunya. Pintar, cantik, dan penurut. Saya aja yang baru bertetangga 1
bulan terasa kehilangan Layla.
Apalagi saya belum punya momongan. Sepi
saya dan suami pecah saat Layla di
sana. Dia anak yang baik, pasti diberikan
tempat yang baik pula."

"Iya, Bu. Tapi yang saya enggak habis
pikir, ya, kejadian meninggalnya
Layla. Tragis. Tega betul pelakunya ya,
Bu!"

Aku ingin tidak mempercayai percakapan dua ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya di taman bermain ini, 30 menit yang begitu mematahkanku. Layla meninggal.

Aku kira dia akan baik-baik saja setelah sore kelam itu. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, berjambang, dengan rambut gondrong dengan mata merah
frustrasi. Ia memberi permen kepada Layla dan mencoba mengajak gadis itu ikut dengannya. Layla sempat menolak. Dia melawan, mencoba berteriak, tapi apa daya gadis kecil itu tak cukup kuat
melawan. Layla dengan pakaian yang dibuka paksa, di bawah tubuh seorang lelaki yang bertelanjang dari pinggang hingga mata kaki. Tubuh Layla didesak-desak oleh tubuh berat itu, terdengar suara Layla kesakitan.

Untuk pertama kali setelah aku berdiri bertahun-tahun sebagai ayunan, aku mengutuk diriku menjadi benda mati. Aku mengutuk posisiku yang menjorok ke dalam. Tidak ada yang bisa melihatnya
menyiksa cintaku.

Layla-ku diperkosa. Setelah puas berayun-ayun dengannya, lelaki itu mencampakkan Layla dari atas tubuhku--dengan ayunan sangat keras. Aku dan Inka adalah saksi bisu, melihat tubuh Layla jatuh berdebum di atas tanah. Kepalanya membentur batu, sedikit bercak
darah tertinggal di serat kayuku.
Laki-laki itu pergi, katanya ini
pembalasan untuk ibu Layla yang
memecatnya. Layla-ku diam, tertidur, dengan darah yang mengaliri kepala. Rambut-rambut hitamnya basah. Sampai beberapa orang menemukannya selepas azan Isya. Itu pertemuan terakhirku dengan Layla yang hidup. Tadinya aku berharap Layla baik-baik saja, tapi harapanku sudah
terjawab. Layla tidak baik-baik
saja dan kini dia sama seperti aku dan Inka, tanpa nyawa, tanpa kehangatan.

Aku masih sering mendengarnya tertawa, setiap malam. Dia masih sering duduk di sini, dengan tawanya yang menyeramkan. Mungkin merindingkan bulu-bulu kudukku, jika ada.

**

[Cerita Pendek] - Sepeda Mati

"Aku sangat mencintaimu. Aku pun sudah berjanji, akan membawamu pergi dan membahagiakanmu sampai mati. Aku sudah berjanji membebaskanmu dari kesombongan dinding-dinding mewah itu, keangkuhan orang tuamu, dan kau ...."

Kau mengecup tengkuk gadis di depanmu. Tengkuk putih yang dingin. Tengkuk indah yang dipenuhi bulu-bulu halus. Kau menciumi tubuhnya, menciumi pundaknya, menjalarkan ciumanmu ke lengan dan punggung tangannya. Lalu kausematkan sebuah cincin berlian mahal.

Kau selalu ingin menyenangkan wanitamu. Lalu kaukecup lagi tengkuknya hingga menggugah kelaki-lakianmu. Aroma tubuhnya membuatmu berhasrat menyetubuhinya.

Kekasihmu manja. Dia tidak pernah mau berjalan ke mana-mana tanpa digendong olehmu. Dan kau tak pernah keberatan melakukannya--seperti saat ini. Kau menggendongnya dari meja makan ke tempat tidur kalian. Romantisme memabukkan. Kau seperti orang yang setiap hari jatuh cinta.

Kau dan wanitamu sampai di tempat tidur bernuasa merah dan beraroma sama seperti bau wanitamu. Aroma yang membuatmu bernafsu untuk bercinta dan menyetubuhinya.

Kau mengayuhnya, seakan dia sepeda kecil yang dulu dibelikan ibumu. Lalu usai mencumbui kekasihmu, kau kembali pada amarahmu.

"Aku sudah memikirkan matang-matang balas dendam termanis untuk kalian. Hanya saja aku tidak mau kamu menangis kesakitan. Aku tak mau." Kau menatapnya dengan mata merahmu. "Sudah pernah kukatakan untuk tidak menolakku! Tapi kau tetap kukuh menolakku. Kini kau yang minta aku setubuhi setiap waktu, Wanita Jalang!"

Sebuah tamparan pada pipi putih itu. Pipi yang tak lagi bisa memerah. Kau tersengal karena emosi, lalu meracau tak jelas.

Wanita di depanmu tertidur, lemah setelah kau setubuhi berkali-kali. Beberapa titik tubuhnya membiru. Lainnya ada bekas pecut. Kamu selalu kasar saat bercinta, menganggap tubuh wanitamu seperti sepeda yang bisa dikayuh setiap saat kau ingin.

Wanita itu terus diam saat kamu jadikan tubuhnya santapan. Dia semakin lemah, semakin lembek. Dia tidak lagi menangis. Mungkin lelah atau mungkin karena tidak bisa.

Kau terus menyetubuhinya, membuahi rahimnya, melandaskan isi buah zakarmu di dalamnya. Kau melenguh dan--lagi-lagi--dia hanya diam. Kamu kembali marah, sebab dia seakan tidak menikmati permainanmu. Kau menyiksanya lagi. Memukulinya dan terus memaki. Kau kesal, seakan dia tidak terpuaskan. Tapi kamu terus puas dengan tubuhnya yang pasrah. Mungkin menyerah atau mungkin tidak lagi bisa apa-apa.

Pada waktu yang lain, kamu menyuguhkannya lagi makanan. Makanan enak yang kaumasak sendiri dengan kasih sayang untuk wanitamu. Anak bekas majikanmu, anak orang yang menghinamu. Wanita yang menolakmu karena kemiskinanmu. Wanita yang tidak mau menerimamu.

Wanita yang kamu bawa kabur dari rumah besar mewahnya. Wanita yang kamu sembunyikan dan kamu setubuhi berkali-kali. Wanita yang tubuhnya kini mulai membusuk dan terus kaubuahi, berharap menghasilkan anak pada rahimnya.

Kau necrophilia yang terus menyiksa si mati, dendam yang kau nikmati. Kau menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Lalu saat sadar, kamu akan menangis sejadi-jadinya.

Hidupmu hancur. Di luar sana polisi mencari-carimu. Kaumasuk daftar pencarian orang nomor satu di kotamu. Orang-orang menutup pintu lebih cepat saat kabar satu keluarga kaya beserta anjing-anjing penjaga dan bodyguard profesional habis dibantai, entah bagaimana kamu melakukannya. Mereka semua mati kauhabisi tanpa ampun. Orang-orang takut, terlebih kabar tentang anak si kaya yang kaubawa lari.

Tapi orang-orang tidak tahu, gadis itu pun sudah mati. Gadis yang telah kau setubuhi berkali-kali mayatnya. Orang-orang di kota bergidik ngeri setiap namamu disebut, seperti memutar kembali kotak ingatan di kepala mereka tentang pembantaian pengusaha kaya Wahyu Suryadiantara.

Lelaki berusia 55 tahun itu tewas dengan puluhan luka tusukan di jantung dan paru-parunya. Lidah tercincang dan satu biji mata yang diselipkan di antara gigi-gigi gerahamnya. Rongga mata kosong yang tercungkil memperlihatkan luka bakar parah, akibat siraman air keras. Sedangkan sang istri mati dengan kepala botak, mata melotot, tubuh membiru dan sumpalan rambut memenuhi mulut, diduga ia kehabisan nafas. Jari manisnya pun hilang terpotong, ya, kau memotongnya. Jari manis yang mengenakan cincin berlian mahal.

Cincin yang telah kaupasangkan di jari manis wanitamu yang mati, cincin bekas ibunya yang juga sudah tiada.

Rabu, 23 Juli 2014

Punggung

"Aku mencintai apa saja tentangmu." Sinta mengecup punggung kekasihnya.

Kekasihnya tampak selalu tenang dalam dekapan Sinta. Sinta beranjak dari kasur, mematut dirinya di cermin, menyisir rambutnya, lalu mengulaskan pelembab bibir. Dia tersenyum memandang bayangan sempurnanya sendiri.

Pelan-pelan dia membuka pintu kamar lalu menutupnya tanpa suara. Dia tidak ingin kekasihnya terbangun. Setelah pintu tertutup, Sinta sedikit berjingkat menuju dapur.

"Reno pasti lelah. Suara sekecil apapun tidak boleh menganggunya..." Sinta bergumam kecil.

 Sesampainya di dapur, perempuan bermata serupa senja itu mulai membuka kulkas. Mengeluarkan Tofu, saus tiram, sawi putih, wortel, daun bawang, dan beberapa jenis makanan lainnya.

"Sebelum Reno bangun, aku akan menyiapkan semua masakan kesukaannya..." Lagi-lagi bisikan yang mungkin hanya bisa didengar oleh angin.

Di rumah ini sangat banyak meja makan. Di atas meja-meja tersebut tersaji makanan-makanan yang--beberapa di antaranya--sudah membusuk dan bau.

Tapi Sinta selalu punya meja baru untuk menyajikan masakan kesukaan Reno.

Sinta memasak. Aroma tumisan bawang putih memenuhi ruangan. Sayur-sayur yang diambilnya tadi sudah dicincang rapi, siap diolah menjadi masakan-masakan nikmat.

Setelah sekitar satu jam berlalu, semua masakan sudah selesai disajikan di meja makan barunya bersama Reno.

"Waktunya membangunkan Reno!" teriak Sinta riang. Senyumnya merekah.

Sinta berjalan kembali ke kamarnya, membuka pintu. Dia menaiki tempat tidurnya, membelai-belai tubuh kekasihnya. Mengecup punggungnya lagi dan berbisik, "Sayang, sudah siang. Sudah waktunya makan. Kamu ini manja sekali...'

Tak ada suara balasan.

Sinta tersenyum lalu menggendong guling itu ke meja makan barunya. Dia lalu mendudukkannya pada salah satu kursi, mengambil makanan untuk dua piring. Dia lalu makan dengan lahap sambil sesekali tersenyum menghadap benda tak bergerak di depannya.

Setelah selesai dia kembali memeluk guling itu dari belakang kursi, mengecupnya seolah itu adalah sebuah punggung lelaki tegap, tampan, dan mapannya dulu.

Reno Baskoro. Lelaki yang harusnya menikahi Sinta setahun lalu. Lelaki yang kini bahkan jejaknya tak bisa dilacak. Entah di mana lelaki berpunggung kokoh itu.

Sinta kembali memeluk gulingnya, menggendongnya ke kamar, lalu menidurkannya di ranjang sambil menyelimutinya.

"Aku mencintai apa saja tentangmu, Reno. Selalu. Selamanya..." Sinta mengecup punggung guling yang dia anggap kekasihnya.

Senin, 21 Juli 2014

13

Aku mengisi 1 toples besar dengan 13 bibir. Bibir yang sangat aku sukai. Toples besar penuh bibir. Aku menaruhnya di kamarku, menciumnya sebelum aku tidur, melumatnya pelan dan meletakkannya kembali ke dalam.

***

Tahu bagaimana hidup membuatmu gila dengan kekaguman yang berlebihan pada seorang pria namun sedikitpun dia tidak menyadarinya. Lalu bibirmu tidak mampu bicara sedikit apapun tentang hatimu? Rasanya sial. Aku begitu mengangguminya bibirnya, matanya, segalanya. Tapi bibir itu selalu membuat aku candu untuk mengecupnya, walau tidak pernah terjadi di alam nyata setidaknya aku mengecupnya selalu di dalam mimpiku, pikiranku, hatiku. Bibirnya adalah sesuatu yang selalu bisa membuat mataku tidak lepas menatap setiap apa yang terucapnya, aku begitu ingin bibir itu.

Dua hari yang lalu aku menuliskan surat cinta untuknya. Surat cinta yang tidak terbaca itu sudah benar-benar membuatku marah, aku kesal. Aku menangis gila di kamarku, aku ingin bibir itu ada di kamarku, aku ingin bisa melumatnya setiap aku mau untuk melepas canduku. Aku mau bibirmu, Ras. Rasya Surya, lelaki yang menjadi obsesiku dari massa SMP, 13 tahun lalu. Dia bukan kakak kelasku, dia juga bukan teman yang bersekolah denganku. Dia guru pkl di sekolahku. Aku begitu mau. Aku begitu ingin bibir itu.

Hari ini aku menelpon ke rumahnya, namun suara wanita itu lagi yang mengangkatnya. Aku membanting keras teleponku. Aku kesal, aku mau mendengar suara dari bibir itu. Aku mau. Lusa aku putuskan untuk mencarinya 'persetan kau sudah beristri, aku mau bibirmu, bibir yang 13 tahun lalu membuatku layu setiap kau tersenyum'.

Hari ini, hari di mana aku mendatangi sekolah tempat Rasya mengajar, tapi dia belum terlihat. Aku menunggu dengan senjata laras panjangku di balik pohon depan sekolah tempatnya bekerja 'aku akan mengambil bibirmu'

***

Akhirnya keinginanku lepas, hatiku bebas. Aku memiliki bibirmu, Ras. Bibir yang selalu buatku mau, buatku candu. Akhirnya aku bisa melumatnya setiap waktu. Ku letakkan 13 bibir dalam 1 toples besar di kamarku. Bibir tipis dengan senyum lebar, bibir tipis yang diam, bibir tipis yang membentuk huruf o, bibir tipis yang melekung ke bawah, bibir tipis yang aku mau. Aku dapat 13 bibirmu.

Ku letakkan toples itu di kamarku, bersanding dengan 13 toples potongan tubuhnya yang lain. Aku pun bisa memilikinya. Aku pun bisa. Ku buka tas ku dan mengambil kamera berlensa tele yang tadi membantuku mendapatkan bibirmu, ku kecup senjata laras panjangku itu 'terimakasih membantuku mendapatkan yang ku mau'

*ku simpan kembali kameraku ke dalam lemari

Halusinasi - Bianca

Dunia ini membuat aku melayang, tidak bisa kujabarkan satu per satu, sekumpulan perasaan yang tidak tergambar. Aku merasa ruh ku tertidur, bahkan disaat aku bangun. Aku berada dibanyak tempat, kadang di saat bersamaan. Bunga tidur atau kekosongan pikiran? Halusinasi atau delusi. Semua berbatas garis tipis yang tidak terlihat. Tapi kau jelas tahu, semua berbatas, semua terbatas. Atau aku rasa ini hanya sekedar penghayatan batin? suatu perasaan yang tidak bisa aku tangkap, pecah lalu membuat aku melayang lagi. Begitu seterusnya. Kadang suatu pagi aku terbangun dengan perasaan yang menyenangkan. Begitu menenangkan, tersenyum dan mimpi membawaku terbang. Bayangan itu berubah ke segmen berbeda.


***

Pagi ini, aku terbangun dan menemukan orang-orang yang sudah lama ingin kutemui, nenek dan kakek. Kami berbincang banyak tentang hari-hari selama tidak saling melihat. Mereka menceritakan banyak hal menyenangkan, ada juga beberapa yang membuatku sedih. Seperti sakit-sakit renta yang hanya mereka hadapi berdua. Orangtuaku, di mana mereka? Kenapa tidak menjenguk nenek? Aku bertanya. Lalu nenek dan kakek menjawab, kata mereka orangtuaku sudah 2 tahun meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Bagaimana aku bisa tidak mengingatnya.

Aku melakukan banyak hal seharian bersama nenek dan kakek. Berkebun, memasak, memijat mereka. Mimpi itu datang saat aku menyisir rambut nenek dengan uban penuh di kepala, rambut itu perlahan menghitam, tubuhnya mengecil, kerut-kerut waktu pada wajahnya menghilang. semua terjadi perlahan, semua melayang, semua berputar.

"Ibu, sudah selesai mengepang rambutku? Ibu kenapa melamun lagi. Aku akan terlambat ke sekolah, bu"

"I..iya"

Aku kembali mengepang rambutnya. Putri kecilku, Bianca. Matanya lincah, bibir tipisnya tidak pernah diam, kulit putihnya kemerahan diterpa matahari pagi. Wajahnya mirip aku, sangat mirip. Aku bahkan merasa sedang menyisir rambutku sendiri, mengepang rambutku, dan bicara sendiri pada diriku. Bianca memang mirip aku. Selesai mengepang rambut Bianca, aku menyuapinya sarapan.

"Apa ibu nanti malam pergi lagi seperti biasa?"

"Iya, sayang. Tapi kau akan ditemani mbak Sulis"

"Iya, aku tahu. Setiap malam dia menemaniku sampai ibu pulang pagi bukan?"

"Kenapa Bianca bicara begini lagi, bukannya kau sudah berjanji tidak lagi mengatakan, menanyakan atau mempermasalahkan, masalah ini?"

Dia hanya diam menatapku, tapi setiap kata yang kuucapkan menghasilkan perih dalam hatiku sendiri. Bening hangat mulai memenuhi ruang-ruang kosong mata. Kesepian mencengkramku. Tubuhku kembali melayang. Kudapati diriku dengan seragam merah putih, Tuhan mimpi ini lagi? apa ini. Aku mencubit tanganku sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.

"Bianca!"

"Hai, Fen"

Dari mana aku mengetahui nama gadis itu, bagaimana bisa aku tidak asing dengan wajahnya.

"Sudah selesaikan pekerjaan rumahmu?"

"Belum"

"Lagi-lagi kau tidak mengerjakannya, kau mau dihukum lagi?"

"Aku benci dihukum"

"Kalau begitu salin punyaku sekarang"

"Aku tidak ingin mengerjakan apapun"

"Baiklah, biar aku yang mengerjakannya untukmu"

Senyumku mengembang, tidak terarah. Kadang aku merasakan kehilangan kewarasanku, tapi aku yakin sekali tidak. Tidak berapa lama aku mendapati semua PR ku terisi sempurna, aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Bel masuk berbunyi. Kami memasuki kelas. Di sini ramai, tapi aku merasa anak-anak itu seperti tidak bernyawa, mereka bergerak hanya matanya tidak hidup, ke mana pun mereka menatap, ke mana pun mata mereka mengarah, mata itu tidak bergerak. Kuduk kubergidik, ngeri. Kulirik gadis yang tadi mengerjakan pekerjaan rumahku, tatapannya sama dengan yang lain. Aku merasa masuk ke dalam mimpi buruk, mimpi buruk yang berbatasan dengan mimpi-mimpi baik. Aku kembali melayang.

"Kau tak apa?"

"Y..ya. Aku baik-baik saja" jawabku tergagap.

"Bel masuk sudah berbunyi tapi kau masih di sini. Apa kau tidak ada jadwal mengajar?"

Petir itu kembali menyambarku. Aku semakin tidak mengerti kehidupan mana yang benar-benar aku jalani. Aku memandangi sebuah kubikel kecil penuh buku di hadapanku. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut, lemari-lemari kaca penuh buku, kubikel-kubikel padat. Lalu kembali tertuju pada meja kerja yang sedang aku tempati. Mataku terfokus pada satu bundel ordner tebal bertuliskan RPP ESL 2004-2005.

"Apa kau tidak punya jadwal mengajar?"

"A..ada"

Aku segera bergegas, mengambil beberapa buku cetak. Berjalan terburu-buru. Menuju kelas yang isi nya murid-murid berseragam putih abu-abu. Aku menarik nafas panjang. Memasuki ruangan.

"Greetings!"

"Good afternoon, Miss Bianca"

"Good afternoon"

Waktu berjalan gamang. Terus berputar, setiap detiknya seperti membawaku berlari ke tempat yang tidak aku tahu, tapi aku tahu. Bisa bayangkan? Kau tidak tahu tapi kau tahu. Bisa bayangkan bagaimana? Semua bergejolak. Aku bergegas keluar setelah menyelesaikan tugas mengajarku. Aku harus pergi mencari apapun yang bisa memberitahuku. Gamang tubuhku kembali merasa melayang. Berputar-putar.

"Bianca, mau makan apa?"

"A..aku, apapun, bu"

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, ayah"

"Dari tadi, kau seperti orang kebingungan"

Aku berada dalam kendaraan roda empat bersama dengan orangtuaku, ayah dan ibu. Kami sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, tiga puluh menit sebelum kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membunuh kedua orangtuaku. Aku sendiri. Kesepian. Ketakutan. Keluarga ibu dan ayah sepakat aku akan diasuh nenek dan kakek dari pihak ibu. Aku menghabiskan tahun-tahunku di sana. Membantu nenek sebagai pemeras susu sapi. Mengubur banyak mimpi.

Aku lega, tahun-tahun penuh mimpiku berakhir. Sampai satu pagi yang lain, semua mimpi itu mencuriku lagi. Aku berada di sebuah altar besar, deretan antrian panjang manusia melewati dan menyalamiku. Pernikahan.

"Aku mencintaimu" bisik pria itu pelan.

"Kau siapa?"

"Hahaha, kau bercanda seperti ini lagi sayang dan ini tidak lucu"

"M..maaf sayang"



***

Suatu sore, Klinik Psikosomatik

"Hari ini bagaimana kondisinya, ada perkembangan?"

"Dia belum sadar dari kondisi katatoniknya, masih sangat labil. Dia selalu membuat sistem proteksi baru dan melawannya sendiri, mempertanyakannya sendiri. Kebingungan di dalam tubuhnya"

"Aku harap nenekku bisa pulih"

Bianca mengelus kepala wanita tua dengan uban penuh di kepala, gurat-gurat keriput waktu menggaris wajahnya, rasanya seperti mengelus kepalanya sendiri.

Mimpi itu masih kembali, tidak pergi. Halusinasi panjang.