Sabtu, 26 Juli 2014

[Cerita Pendek] - Sepeda Mati

"Aku sangat mencintaimu. Aku pun sudah berjanji, akan membawamu pergi dan membahagiakanmu sampai mati. Aku sudah berjanji membebaskanmu dari kesombongan dinding-dinding mewah itu, keangkuhan orang tuamu, dan kau ...."

Kau mengecup tengkuk gadis di depanmu. Tengkuk putih yang dingin. Tengkuk indah yang dipenuhi bulu-bulu halus. Kau menciumi tubuhnya, menciumi pundaknya, menjalarkan ciumanmu ke lengan dan punggung tangannya. Lalu kausematkan sebuah cincin berlian mahal.

Kau selalu ingin menyenangkan wanitamu. Lalu kaukecup lagi tengkuknya hingga menggugah kelaki-lakianmu. Aroma tubuhnya membuatmu berhasrat menyetubuhinya.

Kekasihmu manja. Dia tidak pernah mau berjalan ke mana-mana tanpa digendong olehmu. Dan kau tak pernah keberatan melakukannya--seperti saat ini. Kau menggendongnya dari meja makan ke tempat tidur kalian. Romantisme memabukkan. Kau seperti orang yang setiap hari jatuh cinta.

Kau dan wanitamu sampai di tempat tidur bernuasa merah dan beraroma sama seperti bau wanitamu. Aroma yang membuatmu bernafsu untuk bercinta dan menyetubuhinya.

Kau mengayuhnya, seakan dia sepeda kecil yang dulu dibelikan ibumu. Lalu usai mencumbui kekasihmu, kau kembali pada amarahmu.

"Aku sudah memikirkan matang-matang balas dendam termanis untuk kalian. Hanya saja aku tidak mau kamu menangis kesakitan. Aku tak mau." Kau menatapnya dengan mata merahmu. "Sudah pernah kukatakan untuk tidak menolakku! Tapi kau tetap kukuh menolakku. Kini kau yang minta aku setubuhi setiap waktu, Wanita Jalang!"

Sebuah tamparan pada pipi putih itu. Pipi yang tak lagi bisa memerah. Kau tersengal karena emosi, lalu meracau tak jelas.

Wanita di depanmu tertidur, lemah setelah kau setubuhi berkali-kali. Beberapa titik tubuhnya membiru. Lainnya ada bekas pecut. Kamu selalu kasar saat bercinta, menganggap tubuh wanitamu seperti sepeda yang bisa dikayuh setiap saat kau ingin.

Wanita itu terus diam saat kamu jadikan tubuhnya santapan. Dia semakin lemah, semakin lembek. Dia tidak lagi menangis. Mungkin lelah atau mungkin karena tidak bisa.

Kau terus menyetubuhinya, membuahi rahimnya, melandaskan isi buah zakarmu di dalamnya. Kau melenguh dan--lagi-lagi--dia hanya diam. Kamu kembali marah, sebab dia seakan tidak menikmati permainanmu. Kau menyiksanya lagi. Memukulinya dan terus memaki. Kau kesal, seakan dia tidak terpuaskan. Tapi kamu terus puas dengan tubuhnya yang pasrah. Mungkin menyerah atau mungkin tidak lagi bisa apa-apa.

Pada waktu yang lain, kamu menyuguhkannya lagi makanan. Makanan enak yang kaumasak sendiri dengan kasih sayang untuk wanitamu. Anak bekas majikanmu, anak orang yang menghinamu. Wanita yang menolakmu karena kemiskinanmu. Wanita yang tidak mau menerimamu.

Wanita yang kamu bawa kabur dari rumah besar mewahnya. Wanita yang kamu sembunyikan dan kamu setubuhi berkali-kali. Wanita yang tubuhnya kini mulai membusuk dan terus kaubuahi, berharap menghasilkan anak pada rahimnya.

Kau necrophilia yang terus menyiksa si mati, dendam yang kau nikmati. Kau menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Lalu saat sadar, kamu akan menangis sejadi-jadinya.

Hidupmu hancur. Di luar sana polisi mencari-carimu. Kaumasuk daftar pencarian orang nomor satu di kotamu. Orang-orang menutup pintu lebih cepat saat kabar satu keluarga kaya beserta anjing-anjing penjaga dan bodyguard profesional habis dibantai, entah bagaimana kamu melakukannya. Mereka semua mati kauhabisi tanpa ampun. Orang-orang takut, terlebih kabar tentang anak si kaya yang kaubawa lari.

Tapi orang-orang tidak tahu, gadis itu pun sudah mati. Gadis yang telah kau setubuhi berkali-kali mayatnya. Orang-orang di kota bergidik ngeri setiap namamu disebut, seperti memutar kembali kotak ingatan di kepala mereka tentang pembantaian pengusaha kaya Wahyu Suryadiantara.

Lelaki berusia 55 tahun itu tewas dengan puluhan luka tusukan di jantung dan paru-parunya. Lidah tercincang dan satu biji mata yang diselipkan di antara gigi-gigi gerahamnya. Rongga mata kosong yang tercungkil memperlihatkan luka bakar parah, akibat siraman air keras. Sedangkan sang istri mati dengan kepala botak, mata melotot, tubuh membiru dan sumpalan rambut memenuhi mulut, diduga ia kehabisan nafas. Jari manisnya pun hilang terpotong, ya, kau memotongnya. Jari manis yang mengenakan cincin berlian mahal.

Cincin yang telah kaupasangkan di jari manis wanitamu yang mati, cincin bekas ibunya yang juga sudah tiada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar