Sabtu, 26 Juli 2014

[FF] - Kosong

Patah hati jelas bukan hal yang mudah, itu sering kali membuat kita kacau. Kehilangan selera makan, kehilangan hasrat ingin melakukan apapun. Menatapi yang berhubungan dengan dia lama-lama, dan merasakan perih di ulu hati yang teramat sangat.

Aku duduk, menghadap jendela di sebuah caffe tua pinggir kota. Mozaik-mozaik hujan tampak kabur di mata, iya di mataku pun kini sedang ada genangan serupa. Hujan yang turun terasa lebih perih di hati. Aku merasa diriku lusuh, tulang-tulangku lemas, lemah. Aku kehilangan harapan.

Dua puluh empat jam lalu sebuah undangan merobek-robek hatiku, undangan pernikahan seseorang yang masih kuanggap kekasihku, walau kenyataannya dia tidak menganggapku begitu. Tulisan-tulisan yang tersusun begitu menyakitkan mata, menyakitkan hati, menghentikan desir aliran darah dan mengacaukan saluran pernafasanku. Dunia terasa sesak.

Kembali terputar masa-masa dengannya, duduk di caffe tua ini. Caffe tua pinggir kota, di depan sebuah sungai kecil mengalir dekat kampus kami. Dulu kami sering bercengkrama di sini. Aku bahkan masih mendengar tawa kami. Begitu menyakitkan setiap waktu yang berjalan ini.

Udara dingin menusuk tulangku, membuat aku ingin ke kamar mandi. Aku ingin berkaca, mencari rupaku. Seberapa buruk aku terlihat di pantulan itu.

Aku berjalan, tubuhku yang gemuk ini seolah terasa sangat ringan. Andai aku memiliki tubuh seindah gadis itu, gadis yang kini kau sanding di pelaminan bersamamu.

Aku berjalan, bergerak seperti tidak bernyawa, aku tidak berhasrat untuk apapun. Sesampai di kamar mandi, semua sepi. Ruangan ini lebih longgar untuk bernafas, di sebuah pojokan kupandangi gadis kurus pucat. Wajahnya dingin. Tapi aku tidak peduli, begitu pun dia. Aku sedang begitu malas bertegur sapa.

Aku mencari westafel, aku ingin membasuh wajahku dengan air, aku ingin dingin ini bertambah, saat beku orang akan mati rasa, bukan? Aku memutar kran air pada westafel tua yang tak terawat, rasanya begitu keras. Entah aku yang saat ini begitu lemah, berkali-kali aku mencoba, tetap tidak bisa. Aku lelah. Kutegakkan kepalaku, mencoba mencari pantulan buruk rupaku di cermin. Kosong. Tidak ada wajahku di sana.

*

DUA PULUH EMPAT JAM YANG LALU, DI PEMAKAMAN.

"Apa kabarmu? Apa kau sehat? Aku merindukanmu. Kau tahu tahun-tahun begitu berat saat kau tidak lagi bersamaku, aku mengalami patah hati yang sangat. Setelah kecelakaan itu"

Pria itu menarik nafas berat, terus berbicara pada batu nisan yang diam. Batu nisan wanita yang dulu kekasihnya.

"Sayang, aku akan menikah. Aku harap kau tidak bersedih dengan kabar ini, aku akan terus mencintaimu, dia pun tahu aku sangat mencintaimu"

Lelaki itu bangkit, setelah meletakkan selembar undangan penikahannya. laki-laki itu berlalu. Melangkah menjalani hidup baru. Wanita mati itu patah hati tanpa ia tahu.

[FF] - Martabak Telur Betina Simpanan


Mungkin kau belum pernah melihat aku sekacau ini, tapi yakinlah ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga, ini adalah sesuatu yang berkali-kali aku alami, dulu dia yang sebelummu sudah mengetahui betul perangaiku. Aku lebih suka menikmati daging itu segar-segar, dari pada martabak telur petak kecil yang tidak pernah bisa aku sukai, bodohnya kau, kau selalu memberi aku makanan yang kau sukai tanpa peduli aku menikmatinya atau tidak.

Pagi ini, sialnya kau membiarkan aku sangat kacau, aku bermalas-malasan seharian sebagai simpanan yang selalu kau banggakan di depan teman-temanmu yang bermata sama cabul denganmu setiap memandangku, aku tahu kalian lelaki berbirahi binatang yang tidak akan puas walau kepuasan di bumi ini habis. Aku bermondar mandir berharap kau menuruti mau ku. Aku memandang-mandang ke arahmu, tapi kau sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnismu itu. Memuakkan!. Harusnya kau tahu aku sudah lapar dan jenuh menunggumu, botak gemuk.

***

"Dia cantik bukan?", lelaki berperut buncit dengan kepala yang hampir botak, ya kau. Berbicara pada temanmu yang lagi-lagi memandangi aku dengan nafsu binatangnya.

"Sangat cantik, apa aku bisa menyentuhnya?"

"Tidak, dia hanya milikku..hahaha", kau tergelak puas. Aku jijik. Kau tau aku selalu mandi setiap kau selesai menyentuhku, setiap aku selesai memenuhi semua kepuasanmu. Bahkan jika bisa aku mandi setiap satu sentuhanmu mendarat di tubuhku, akan aku lakukan.

"Kau yakin tidak apa-apa menyimpannya di sini? Bagaimana jika istri dan anakmu tiba-tiba kembali dari luar negeri dan mendapatinya di sini"

"Biarlah, aku mencintainya, aku sangat senang melihatnya di rumahku. Menemani aku, walau terkadang perangainya tak menentu. Aku rasa dia bosan jadi simpanan"

"Hahahaha, bahkan macan betina pun tak rela dimadu, apalagi wanita-wanita kita"

"Hahahahaha, kau benar"

***

Tawa kalian mengelegar, dan aku semakin bosan. Ah menjijikan. Lelaki-lelaki tua cabul, jika aku punya kesempatan menumbuhkan taring dan cakarku lain waktu, akan kucabik-cabik daging segarmu lalu kusisakan sedikit daging untuk istrimu, agar dia bisa membuat martabak telur dan mengunyahmu juga karena telah menduakannya.

[Cerita Pendek] - Ayunan


"Layla, Sayang. Layla, anak ibu yang
paling cantik. Layla, Sayang. Layla,
janganlah Layla bersedih...."

Seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluhan, bernyanyi-nyanyi di taman komplek. Pandangan matanya kosong. Ia bernyanyi sambil menyebut-nyebut nama anaknya. Seorang gadis kecil yang kini sudah tiada.

"Laki-laki bangsat! Laki-laki keparat! Kubunuh kau! Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!!" tangisnya memecah
senja, begitu kelam.
Beberapa mata menatapnya iba. Kepedihan seorang ibu akan kematian buah hatinya adalah serenade paling pedih.

*

Semoga pasanganku tidak pernah tahu apa yang berkecamuk dalam hatiku sekarang. Semoga dia tidak pernah tahu perasaanku telah membelah. Gadis itu, aku tidak bisa menghindar untuk memikirnya. Dia begitu berbeda dengan yang lain, memperlakukanku sangat lembut. Lelaki mana yang tidak suka kelembutan?

Aku begitu bahagia tiap senja dapat bertemu dengannya, meski kadang pula gelisah saat dia tidak menghampiri taman. Aku takut dia sakit. Takut dia tidak lagi ingin kemari. Takut aku
melukainya, karena itu dia tidak lagi mau bertemu aku.

Jatuh cinta dan bermain dalam cinta itu sangat mudah,
bahkan saat pasanganmu di samping pun kau bisa melakukannya. Sebab isi hati adalah rahasia.

Tapi gadis ini jauh lebih menarik dari dia yang menemani aku
bertahun-tahun. Ya, mungkin kalian pikir aku jahat. Mengkhianati pasanganku untuk seorang gadis yang baru satu bulan ini aku temui.
Namanya Layla. Dia baru pindah dari kota di mana kemacetan adalah jendela. Kota yang kemanapun kau memandang,
hamparan panjang kendaraan akan
terlihat. Debu dan asap adalah isi paru-paru makhluk kota itu. Layla tinggal tak jauh dari tempat tinggalku, taman bermain.

"Video game, A video game that allures me,
You can't block me. You're in
danger right now, join the video game, Love game...."


PERTEMUAN PERTAMA PADA SUATU SORE


Aku terayun-ayun setelah seorang anak lelaki gemuk menaikiku dengan kasar. Kadang dia berdiri dan meloncat-loncat.

Andai aku bisa melemparnya jauh
agar terjungkal mungkin sudah kulakukan. Aku pun terus-terus berdoa agar rantai pengaitku pada tiang lepas, agar
anak ini berhenti menyiksaku.
Aku melirik pasanganku yang diam dan tenang. Dia sangat kaku, tapi dia adalah pasanganku. Tuhan memberi dia untuk menemani hari-hariku.

Ayunanku berhenti, kulihat tangan kecil seorang gadis. Rambutnya panjang hitam diterpa cahaya senja, wanginya serupa permen karet atau wangi permen-permen enak lainnya.

Dia membersihkan aku dengan tangan lembutnya, menyapu-nyapu lembut. Aku merasakan desiran berbeda. Sesekali aku melirik
lagi pada Inka, begitulah kupanggil dia, pasanganku. Aku harap Inka tidak melihat rona-rona merah di serat-serat kayuku saat Layla menyentuh setiap
jengkalnya. Aku jatuh cinta, pada pemainku.

"Aku mengekalkan rasaku dalam senja
Pada warna emas di hamparan hitam rambut
dan aroma tubuh yang luar biasa
Aku jatuh cinta padamu
Bukan aku yang bermain, tapi kau yang
mempermainkanku
Bagaimana benda mati bisa merasa hidup
Kau pemain cinta yang luar biasa
Aku terjerat!"

*

Aku berdoa agar Layla tidak pernah dewasa. Sebelum dia, aku pernah patah hati pada pemainku, juga. Pada seorang gadis manis, berlesung pipi dalam.

Namanya Dhila. Dia gadis lucu, dulu sering bermain di sini, menemani aku, membersihkan serat-serat kayuku yang kadang diinjaki tapak-tapak sepatu
teman-temannya. Paling lucu dari dia adalah gadis manis itu sering membagi gulalinya, membuat aku merasakan cecap manis dan tak jarang tubuhku dikerubutin semut setelahnya. Dhila pergi. Dhila hanya menjadikan aku persinggahan masa kecilnya. Maka, aku harap Layla tidak pernah besar.

*

Hari ini aku menanti Layla, aku sudah tidak sabar ingin berayun-ayun bersamanya, melihat hamparan putih giginya, tawanya yang seakan bisa menetapkan langit tetap biru, dan genggamannya pada rantai-rantai dingin pengaitku.

Tapi hari ini Layla tak datang. Bahkan hari-hari selanjutnya pun tidak, hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Layla tidak pernah datang.

Sudah satu pekan dari hari terakhir dia bermain di taman ini, meninggalkan bercak darah di kayuku. Aku melirik Inka, tubuhnya sedikit berayun, masih
kaku, bahkan aku tidak bisa melihatnya tersenyum. Sama seperti dia yang tidak bisa melihatku tersenyum. Aku berharap Layla datang.


30 MENIT YANG MEMATAHKAN


"Kasian ya, Bu. Pasti ibunya terpukul
sekali...."

"Ya, jelas lah, Bu. Wong anak perempuan satu-satunya. Pintar, cantik, dan penurut. Saya aja yang baru bertetangga 1
bulan terasa kehilangan Layla.
Apalagi saya belum punya momongan. Sepi
saya dan suami pecah saat Layla di
sana. Dia anak yang baik, pasti diberikan
tempat yang baik pula."

"Iya, Bu. Tapi yang saya enggak habis
pikir, ya, kejadian meninggalnya
Layla. Tragis. Tega betul pelakunya ya,
Bu!"

Aku ingin tidak mempercayai percakapan dua ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya di taman bermain ini, 30 menit yang begitu mematahkanku. Layla meninggal.

Aku kira dia akan baik-baik saja setelah sore kelam itu. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, berjambang, dengan rambut gondrong dengan mata merah
frustrasi. Ia memberi permen kepada Layla dan mencoba mengajak gadis itu ikut dengannya. Layla sempat menolak. Dia melawan, mencoba berteriak, tapi apa daya gadis kecil itu tak cukup kuat
melawan. Layla dengan pakaian yang dibuka paksa, di bawah tubuh seorang lelaki yang bertelanjang dari pinggang hingga mata kaki. Tubuh Layla didesak-desak oleh tubuh berat itu, terdengar suara Layla kesakitan.

Untuk pertama kali setelah aku berdiri bertahun-tahun sebagai ayunan, aku mengutuk diriku menjadi benda mati. Aku mengutuk posisiku yang menjorok ke dalam. Tidak ada yang bisa melihatnya
menyiksa cintaku.

Layla-ku diperkosa. Setelah puas berayun-ayun dengannya, lelaki itu mencampakkan Layla dari atas tubuhku--dengan ayunan sangat keras. Aku dan Inka adalah saksi bisu, melihat tubuh Layla jatuh berdebum di atas tanah. Kepalanya membentur batu, sedikit bercak
darah tertinggal di serat kayuku.
Laki-laki itu pergi, katanya ini
pembalasan untuk ibu Layla yang
memecatnya. Layla-ku diam, tertidur, dengan darah yang mengaliri kepala. Rambut-rambut hitamnya basah. Sampai beberapa orang menemukannya selepas azan Isya. Itu pertemuan terakhirku dengan Layla yang hidup. Tadinya aku berharap Layla baik-baik saja, tapi harapanku sudah
terjawab. Layla tidak baik-baik
saja dan kini dia sama seperti aku dan Inka, tanpa nyawa, tanpa kehangatan.

Aku masih sering mendengarnya tertawa, setiap malam. Dia masih sering duduk di sini, dengan tawanya yang menyeramkan. Mungkin merindingkan bulu-bulu kudukku, jika ada.

**

[Cerita Pendek] - Sepeda Mati

"Aku sangat mencintaimu. Aku pun sudah berjanji, akan membawamu pergi dan membahagiakanmu sampai mati. Aku sudah berjanji membebaskanmu dari kesombongan dinding-dinding mewah itu, keangkuhan orang tuamu, dan kau ...."

Kau mengecup tengkuk gadis di depanmu. Tengkuk putih yang dingin. Tengkuk indah yang dipenuhi bulu-bulu halus. Kau menciumi tubuhnya, menciumi pundaknya, menjalarkan ciumanmu ke lengan dan punggung tangannya. Lalu kausematkan sebuah cincin berlian mahal.

Kau selalu ingin menyenangkan wanitamu. Lalu kaukecup lagi tengkuknya hingga menggugah kelaki-lakianmu. Aroma tubuhnya membuatmu berhasrat menyetubuhinya.

Kekasihmu manja. Dia tidak pernah mau berjalan ke mana-mana tanpa digendong olehmu. Dan kau tak pernah keberatan melakukannya--seperti saat ini. Kau menggendongnya dari meja makan ke tempat tidur kalian. Romantisme memabukkan. Kau seperti orang yang setiap hari jatuh cinta.

Kau dan wanitamu sampai di tempat tidur bernuasa merah dan beraroma sama seperti bau wanitamu. Aroma yang membuatmu bernafsu untuk bercinta dan menyetubuhinya.

Kau mengayuhnya, seakan dia sepeda kecil yang dulu dibelikan ibumu. Lalu usai mencumbui kekasihmu, kau kembali pada amarahmu.

"Aku sudah memikirkan matang-matang balas dendam termanis untuk kalian. Hanya saja aku tidak mau kamu menangis kesakitan. Aku tak mau." Kau menatapnya dengan mata merahmu. "Sudah pernah kukatakan untuk tidak menolakku! Tapi kau tetap kukuh menolakku. Kini kau yang minta aku setubuhi setiap waktu, Wanita Jalang!"

Sebuah tamparan pada pipi putih itu. Pipi yang tak lagi bisa memerah. Kau tersengal karena emosi, lalu meracau tak jelas.

Wanita di depanmu tertidur, lemah setelah kau setubuhi berkali-kali. Beberapa titik tubuhnya membiru. Lainnya ada bekas pecut. Kamu selalu kasar saat bercinta, menganggap tubuh wanitamu seperti sepeda yang bisa dikayuh setiap saat kau ingin.

Wanita itu terus diam saat kamu jadikan tubuhnya santapan. Dia semakin lemah, semakin lembek. Dia tidak lagi menangis. Mungkin lelah atau mungkin karena tidak bisa.

Kau terus menyetubuhinya, membuahi rahimnya, melandaskan isi buah zakarmu di dalamnya. Kau melenguh dan--lagi-lagi--dia hanya diam. Kamu kembali marah, sebab dia seakan tidak menikmati permainanmu. Kau menyiksanya lagi. Memukulinya dan terus memaki. Kau kesal, seakan dia tidak terpuaskan. Tapi kamu terus puas dengan tubuhnya yang pasrah. Mungkin menyerah atau mungkin tidak lagi bisa apa-apa.

Pada waktu yang lain, kamu menyuguhkannya lagi makanan. Makanan enak yang kaumasak sendiri dengan kasih sayang untuk wanitamu. Anak bekas majikanmu, anak orang yang menghinamu. Wanita yang menolakmu karena kemiskinanmu. Wanita yang tidak mau menerimamu.

Wanita yang kamu bawa kabur dari rumah besar mewahnya. Wanita yang kamu sembunyikan dan kamu setubuhi berkali-kali. Wanita yang tubuhnya kini mulai membusuk dan terus kaubuahi, berharap menghasilkan anak pada rahimnya.

Kau necrophilia yang terus menyiksa si mati, dendam yang kau nikmati. Kau menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Lalu saat sadar, kamu akan menangis sejadi-jadinya.

Hidupmu hancur. Di luar sana polisi mencari-carimu. Kaumasuk daftar pencarian orang nomor satu di kotamu. Orang-orang menutup pintu lebih cepat saat kabar satu keluarga kaya beserta anjing-anjing penjaga dan bodyguard profesional habis dibantai, entah bagaimana kamu melakukannya. Mereka semua mati kauhabisi tanpa ampun. Orang-orang takut, terlebih kabar tentang anak si kaya yang kaubawa lari.

Tapi orang-orang tidak tahu, gadis itu pun sudah mati. Gadis yang telah kau setubuhi berkali-kali mayatnya. Orang-orang di kota bergidik ngeri setiap namamu disebut, seperti memutar kembali kotak ingatan di kepala mereka tentang pembantaian pengusaha kaya Wahyu Suryadiantara.

Lelaki berusia 55 tahun itu tewas dengan puluhan luka tusukan di jantung dan paru-parunya. Lidah tercincang dan satu biji mata yang diselipkan di antara gigi-gigi gerahamnya. Rongga mata kosong yang tercungkil memperlihatkan luka bakar parah, akibat siraman air keras. Sedangkan sang istri mati dengan kepala botak, mata melotot, tubuh membiru dan sumpalan rambut memenuhi mulut, diduga ia kehabisan nafas. Jari manisnya pun hilang terpotong, ya, kau memotongnya. Jari manis yang mengenakan cincin berlian mahal.

Cincin yang telah kaupasangkan di jari manis wanitamu yang mati, cincin bekas ibunya yang juga sudah tiada.

Rabu, 23 Juli 2014

Punggung

"Aku mencintai apa saja tentangmu." Sinta mengecup punggung kekasihnya.

Kekasihnya tampak selalu tenang dalam dekapan Sinta. Sinta beranjak dari kasur, mematut dirinya di cermin, menyisir rambutnya, lalu mengulaskan pelembab bibir. Dia tersenyum memandang bayangan sempurnanya sendiri.

Pelan-pelan dia membuka pintu kamar lalu menutupnya tanpa suara. Dia tidak ingin kekasihnya terbangun. Setelah pintu tertutup, Sinta sedikit berjingkat menuju dapur.

"Reno pasti lelah. Suara sekecil apapun tidak boleh menganggunya..." Sinta bergumam kecil.

 Sesampainya di dapur, perempuan bermata serupa senja itu mulai membuka kulkas. Mengeluarkan Tofu, saus tiram, sawi putih, wortel, daun bawang, dan beberapa jenis makanan lainnya.

"Sebelum Reno bangun, aku akan menyiapkan semua masakan kesukaannya..." Lagi-lagi bisikan yang mungkin hanya bisa didengar oleh angin.

Di rumah ini sangat banyak meja makan. Di atas meja-meja tersebut tersaji makanan-makanan yang--beberapa di antaranya--sudah membusuk dan bau.

Tapi Sinta selalu punya meja baru untuk menyajikan masakan kesukaan Reno.

Sinta memasak. Aroma tumisan bawang putih memenuhi ruangan. Sayur-sayur yang diambilnya tadi sudah dicincang rapi, siap diolah menjadi masakan-masakan nikmat.

Setelah sekitar satu jam berlalu, semua masakan sudah selesai disajikan di meja makan barunya bersama Reno.

"Waktunya membangunkan Reno!" teriak Sinta riang. Senyumnya merekah.

Sinta berjalan kembali ke kamarnya, membuka pintu. Dia menaiki tempat tidurnya, membelai-belai tubuh kekasihnya. Mengecup punggungnya lagi dan berbisik, "Sayang, sudah siang. Sudah waktunya makan. Kamu ini manja sekali...'

Tak ada suara balasan.

Sinta tersenyum lalu menggendong guling itu ke meja makan barunya. Dia lalu mendudukkannya pada salah satu kursi, mengambil makanan untuk dua piring. Dia lalu makan dengan lahap sambil sesekali tersenyum menghadap benda tak bergerak di depannya.

Setelah selesai dia kembali memeluk guling itu dari belakang kursi, mengecupnya seolah itu adalah sebuah punggung lelaki tegap, tampan, dan mapannya dulu.

Reno Baskoro. Lelaki yang harusnya menikahi Sinta setahun lalu. Lelaki yang kini bahkan jejaknya tak bisa dilacak. Entah di mana lelaki berpunggung kokoh itu.

Sinta kembali memeluk gulingnya, menggendongnya ke kamar, lalu menidurkannya di ranjang sambil menyelimutinya.

"Aku mencintai apa saja tentangmu, Reno. Selalu. Selamanya..." Sinta mengecup punggung guling yang dia anggap kekasihnya.

Senin, 21 Juli 2014

13

Aku mengisi 1 toples besar dengan 13 bibir. Bibir yang sangat aku sukai. Toples besar penuh bibir. Aku menaruhnya di kamarku, menciumnya sebelum aku tidur, melumatnya pelan dan meletakkannya kembali ke dalam.

***

Tahu bagaimana hidup membuatmu gila dengan kekaguman yang berlebihan pada seorang pria namun sedikitpun dia tidak menyadarinya. Lalu bibirmu tidak mampu bicara sedikit apapun tentang hatimu? Rasanya sial. Aku begitu mengangguminya bibirnya, matanya, segalanya. Tapi bibir itu selalu membuat aku candu untuk mengecupnya, walau tidak pernah terjadi di alam nyata setidaknya aku mengecupnya selalu di dalam mimpiku, pikiranku, hatiku. Bibirnya adalah sesuatu yang selalu bisa membuat mataku tidak lepas menatap setiap apa yang terucapnya, aku begitu ingin bibir itu.

Dua hari yang lalu aku menuliskan surat cinta untuknya. Surat cinta yang tidak terbaca itu sudah benar-benar membuatku marah, aku kesal. Aku menangis gila di kamarku, aku ingin bibir itu ada di kamarku, aku ingin bisa melumatnya setiap aku mau untuk melepas canduku. Aku mau bibirmu, Ras. Rasya Surya, lelaki yang menjadi obsesiku dari massa SMP, 13 tahun lalu. Dia bukan kakak kelasku, dia juga bukan teman yang bersekolah denganku. Dia guru pkl di sekolahku. Aku begitu mau. Aku begitu ingin bibir itu.

Hari ini aku menelpon ke rumahnya, namun suara wanita itu lagi yang mengangkatnya. Aku membanting keras teleponku. Aku kesal, aku mau mendengar suara dari bibir itu. Aku mau. Lusa aku putuskan untuk mencarinya 'persetan kau sudah beristri, aku mau bibirmu, bibir yang 13 tahun lalu membuatku layu setiap kau tersenyum'.

Hari ini, hari di mana aku mendatangi sekolah tempat Rasya mengajar, tapi dia belum terlihat. Aku menunggu dengan senjata laras panjangku di balik pohon depan sekolah tempatnya bekerja 'aku akan mengambil bibirmu'

***

Akhirnya keinginanku lepas, hatiku bebas. Aku memiliki bibirmu, Ras. Bibir yang selalu buatku mau, buatku candu. Akhirnya aku bisa melumatnya setiap waktu. Ku letakkan 13 bibir dalam 1 toples besar di kamarku. Bibir tipis dengan senyum lebar, bibir tipis yang diam, bibir tipis yang membentuk huruf o, bibir tipis yang melekung ke bawah, bibir tipis yang aku mau. Aku dapat 13 bibirmu.

Ku letakkan toples itu di kamarku, bersanding dengan 13 toples potongan tubuhnya yang lain. Aku pun bisa memilikinya. Aku pun bisa. Ku buka tas ku dan mengambil kamera berlensa tele yang tadi membantuku mendapatkan bibirmu, ku kecup senjata laras panjangku itu 'terimakasih membantuku mendapatkan yang ku mau'

*ku simpan kembali kameraku ke dalam lemari

Halusinasi - Bianca

Dunia ini membuat aku melayang, tidak bisa kujabarkan satu per satu, sekumpulan perasaan yang tidak tergambar. Aku merasa ruh ku tertidur, bahkan disaat aku bangun. Aku berada dibanyak tempat, kadang di saat bersamaan. Bunga tidur atau kekosongan pikiran? Halusinasi atau delusi. Semua berbatas garis tipis yang tidak terlihat. Tapi kau jelas tahu, semua berbatas, semua terbatas. Atau aku rasa ini hanya sekedar penghayatan batin? suatu perasaan yang tidak bisa aku tangkap, pecah lalu membuat aku melayang lagi. Begitu seterusnya. Kadang suatu pagi aku terbangun dengan perasaan yang menyenangkan. Begitu menenangkan, tersenyum dan mimpi membawaku terbang. Bayangan itu berubah ke segmen berbeda.


***

Pagi ini, aku terbangun dan menemukan orang-orang yang sudah lama ingin kutemui, nenek dan kakek. Kami berbincang banyak tentang hari-hari selama tidak saling melihat. Mereka menceritakan banyak hal menyenangkan, ada juga beberapa yang membuatku sedih. Seperti sakit-sakit renta yang hanya mereka hadapi berdua. Orangtuaku, di mana mereka? Kenapa tidak menjenguk nenek? Aku bertanya. Lalu nenek dan kakek menjawab, kata mereka orangtuaku sudah 2 tahun meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Bagaimana aku bisa tidak mengingatnya.

Aku melakukan banyak hal seharian bersama nenek dan kakek. Berkebun, memasak, memijat mereka. Mimpi itu datang saat aku menyisir rambut nenek dengan uban penuh di kepala, rambut itu perlahan menghitam, tubuhnya mengecil, kerut-kerut waktu pada wajahnya menghilang. semua terjadi perlahan, semua melayang, semua berputar.

"Ibu, sudah selesai mengepang rambutku? Ibu kenapa melamun lagi. Aku akan terlambat ke sekolah, bu"

"I..iya"

Aku kembali mengepang rambutnya. Putri kecilku, Bianca. Matanya lincah, bibir tipisnya tidak pernah diam, kulit putihnya kemerahan diterpa matahari pagi. Wajahnya mirip aku, sangat mirip. Aku bahkan merasa sedang menyisir rambutku sendiri, mengepang rambutku, dan bicara sendiri pada diriku. Bianca memang mirip aku. Selesai mengepang rambut Bianca, aku menyuapinya sarapan.

"Apa ibu nanti malam pergi lagi seperti biasa?"

"Iya, sayang. Tapi kau akan ditemani mbak Sulis"

"Iya, aku tahu. Setiap malam dia menemaniku sampai ibu pulang pagi bukan?"

"Kenapa Bianca bicara begini lagi, bukannya kau sudah berjanji tidak lagi mengatakan, menanyakan atau mempermasalahkan, masalah ini?"

Dia hanya diam menatapku, tapi setiap kata yang kuucapkan menghasilkan perih dalam hatiku sendiri. Bening hangat mulai memenuhi ruang-ruang kosong mata. Kesepian mencengkramku. Tubuhku kembali melayang. Kudapati diriku dengan seragam merah putih, Tuhan mimpi ini lagi? apa ini. Aku mencubit tanganku sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.

"Bianca!"

"Hai, Fen"

Dari mana aku mengetahui nama gadis itu, bagaimana bisa aku tidak asing dengan wajahnya.

"Sudah selesaikan pekerjaan rumahmu?"

"Belum"

"Lagi-lagi kau tidak mengerjakannya, kau mau dihukum lagi?"

"Aku benci dihukum"

"Kalau begitu salin punyaku sekarang"

"Aku tidak ingin mengerjakan apapun"

"Baiklah, biar aku yang mengerjakannya untukmu"

Senyumku mengembang, tidak terarah. Kadang aku merasakan kehilangan kewarasanku, tapi aku yakin sekali tidak. Tidak berapa lama aku mendapati semua PR ku terisi sempurna, aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Bel masuk berbunyi. Kami memasuki kelas. Di sini ramai, tapi aku merasa anak-anak itu seperti tidak bernyawa, mereka bergerak hanya matanya tidak hidup, ke mana pun mereka menatap, ke mana pun mata mereka mengarah, mata itu tidak bergerak. Kuduk kubergidik, ngeri. Kulirik gadis yang tadi mengerjakan pekerjaan rumahku, tatapannya sama dengan yang lain. Aku merasa masuk ke dalam mimpi buruk, mimpi buruk yang berbatasan dengan mimpi-mimpi baik. Aku kembali melayang.

"Kau tak apa?"

"Y..ya. Aku baik-baik saja" jawabku tergagap.

"Bel masuk sudah berbunyi tapi kau masih di sini. Apa kau tidak ada jadwal mengajar?"

Petir itu kembali menyambarku. Aku semakin tidak mengerti kehidupan mana yang benar-benar aku jalani. Aku memandangi sebuah kubikel kecil penuh buku di hadapanku. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut, lemari-lemari kaca penuh buku, kubikel-kubikel padat. Lalu kembali tertuju pada meja kerja yang sedang aku tempati. Mataku terfokus pada satu bundel ordner tebal bertuliskan RPP ESL 2004-2005.

"Apa kau tidak punya jadwal mengajar?"

"A..ada"

Aku segera bergegas, mengambil beberapa buku cetak. Berjalan terburu-buru. Menuju kelas yang isi nya murid-murid berseragam putih abu-abu. Aku menarik nafas panjang. Memasuki ruangan.

"Greetings!"

"Good afternoon, Miss Bianca"

"Good afternoon"

Waktu berjalan gamang. Terus berputar, setiap detiknya seperti membawaku berlari ke tempat yang tidak aku tahu, tapi aku tahu. Bisa bayangkan? Kau tidak tahu tapi kau tahu. Bisa bayangkan bagaimana? Semua bergejolak. Aku bergegas keluar setelah menyelesaikan tugas mengajarku. Aku harus pergi mencari apapun yang bisa memberitahuku. Gamang tubuhku kembali merasa melayang. Berputar-putar.

"Bianca, mau makan apa?"

"A..aku, apapun, bu"

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, ayah"

"Dari tadi, kau seperti orang kebingungan"

Aku berada dalam kendaraan roda empat bersama dengan orangtuaku, ayah dan ibu. Kami sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, tiga puluh menit sebelum kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membunuh kedua orangtuaku. Aku sendiri. Kesepian. Ketakutan. Keluarga ibu dan ayah sepakat aku akan diasuh nenek dan kakek dari pihak ibu. Aku menghabiskan tahun-tahunku di sana. Membantu nenek sebagai pemeras susu sapi. Mengubur banyak mimpi.

Aku lega, tahun-tahun penuh mimpiku berakhir. Sampai satu pagi yang lain, semua mimpi itu mencuriku lagi. Aku berada di sebuah altar besar, deretan antrian panjang manusia melewati dan menyalamiku. Pernikahan.

"Aku mencintaimu" bisik pria itu pelan.

"Kau siapa?"

"Hahaha, kau bercanda seperti ini lagi sayang dan ini tidak lucu"

"M..maaf sayang"



***

Suatu sore, Klinik Psikosomatik

"Hari ini bagaimana kondisinya, ada perkembangan?"

"Dia belum sadar dari kondisi katatoniknya, masih sangat labil. Dia selalu membuat sistem proteksi baru dan melawannya sendiri, mempertanyakannya sendiri. Kebingungan di dalam tubuhnya"

"Aku harap nenekku bisa pulih"

Bianca mengelus kepala wanita tua dengan uban penuh di kepala, gurat-gurat keriput waktu menggaris wajahnya, rasanya seperti mengelus kepalanya sendiri.

Mimpi itu masih kembali, tidak pergi. Halusinasi panjang.

Neng Ai

Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, saat aku pulang kampung ke suatu daerah sebelah barat Tasikmalaya. Ada satu tradisi di kampungku pada hari tertentu di beberapa bulan tertentu sekitar pukul 11-12 malam, anak-anak laki-laki dan bapak-bapak berpawai obor keliling desa. Dimulai dari gapura yang ada tepat di pintu masuk dan berakhir di kompleks perkuburan warga setempat.

Aku sempat bertanya pada Nini (panggilan untuk nenek) kenapa pawai ini harus diakhiri di perkuburan tua yang menyeramkan itu, kuburan di kampungku terkenal angker, hampir setiap kali mengadakan tradisi pawai obor keliling selalu ada yang kesurupan di daerah itu. Suhu di perkuburan pun sangat dingin, dingin yang mencekam, yang merindingkan bulu-bulu kudukmu, membuat kaku ujung kaki-kakimu dan membuat matamu selalu waspada pada setiap sudut.


"Rek kumaha ge sadaya jelema pasti maot, jadi panghuni kuburan keur ujung kahirupan, kari ngadagoan dinten amal jeung dosa urang dietang. Mantakna pawai obor teh diujungan di kompleks kuburan ujung desa" kata nini.


Dan benar kehidupan manusia berujung pada kematian. Mungkin tradisi ini sebuah penyadaran, untuk kita tetap menjaga apa-apa yang kita buat.

Kuburan di kampungku memang letaknya berbatasan dengan ujung desa, langsung dengan bukit-bukit dan hutan-hutan bambu lembab. Sekitar 1 minggu yang lalu, di sana ditemukan mayat Neng Ai, bunga desa yang terbunuh tragis, mulutnya sobek, tubuhnya penuh luka lebam, beberapa bagian wajahnya rusak akibat siraman air keras. Neng Ai, Kasihan betul Neng Ai, batinku. Padahal selama ini Neng Ai terkenal ramah dan baik, tidak pula memiliki musuh. Nasib buruk menimpanya saat dia memutuskan menikah dengan pejabat desa sebelah, Neng Ai mati dibunuh istri sah lelaki yang menikah sirih dengannya 7 bulan lalu. "Hah, kumaha jadi teringat Neng Ai kieu" aku tersetak dari lamunanku dan bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap mengikuti pawai obor nanti malam. Aku merasa ada sesuatu yang memantau setiap gerak-gerikku, sesuatu yang tidak terlihat.

*

Malam itu, udara dingin, wajar saja, sore tadi hujan menguyur bumi sangat deras. Pawai obor baru akan dimulai setelah pembacaan doa pembuka. Cahaya dari obor dan bunyi-bunyi kentongan yang dibawa warga, mengisi malam dingin desa. Kami mulai berjalan berkeliling. Sepanjang jalan aku sendiri sibuk mengabadikan gambar-gambar tradisi desa kami, tak ingin momen ini perlina begitu saja termakan zaman, tergerus waktu.

Setelah dua jam pawai obor, kami mulai memasuki kompleks perkuburan untuk penutupan pawai. Disekeliling kuburan terdapat hutan-hutan bambu lebat, lembab dan tinggi. Perasaanku mulai tak enak, aku memandang sekelilingku, semua masih biasa.

Acara penutupan dimulai, awalnya kami sama-sama berdoa yang dipimpin sesepuh desa, suasana sangat hening. Entah mengapa sedari tadi aku merasa ditatapi. Lalu sayup-sayup terdengar olehku potongan tembang Lingsir Wengi, aku tidak tahu dari mana asalnya. Pelan, tapi menyakitkan telinga.

"Lingsir wengi sliramu tumeking sirno, Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro..."

Aku melihat ke sebelahku, mang ujang masih saja merunduk berdoa, lalu aku memandang sekelilingku, tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu di antara rimbun pepohonan bambu, sesuatu yang putih dan melayang. Aku langsung menunduk, jantungku berdetak keras sekali, dalam hati aku tak sudah berdoa, aku sangat takut saat itu. Tidak lama terdengar suara cekikikan wanita, merindingkan bulu kudukku. Aku melihat kembali ke arah mang ujang dan yang lain, mereka seakan tidak terganggu, seperti tidak mendengar apapun. Lalu entah kenapa, aku merasa tubuhku berat. Sangat berat dan panas, aarggghhh..kepalaku begitu sakit. Orang-orang sekelilingku menjauh, mereka membaca doa dan melihat-lihat ke arahku, aku merasa tubuhku semakin panas. Aku kembali mendengar suara cekikikan itu, semakin dekat. Astaga..! Aku mendengarnya dari mulutku, aku dengan tanganku yang bergerak-gerak seolah sedang merapikan rambut, aku merasakan tanganku membelai rambut yang sangat panjang menjuntai seperti berasal dari kepalaku. Sesepuh desa mendekat ke padaku, membacakan doa-doa yang semakin lama semakin membuatku panas. Kepala ini seperti tertusuk ribuan paku beton, sakit, sangat sakit. Lalu terdengar tangisan dan suara menyedihkan seorang wanita.


"Aku teh Neng Ai, pak. Aku teh Neng Ai... huhuhuhu" entah bagaimana suara wanita itu keluar dari mulutku, aku berbicara di luar keinginanku. €Tubuhku saat itu terasa sangat berat.

"Neng Ai, pulanglah, alammu bukan di sini. Jangan ganggu"


"Tolong, saya mau minta tolong. Tolong sampaikan ke ibu neng Ai minta maaf tidak mendengar ibu, tolong bilang ke ibu, neng Ai tidak pernah tenang sebelum ibu maafkan"


Akhirnya sesepuh desa memegang kepalaku. Aku meronta kuat, memaki-maki dan menatapnya tajam, tapi perlahan tubuhku merasa ringan dan pelan-pelan semua berputar, gelap dan semakin gelap.

*

Saat bangun, aku sudah berada di rumah, ramai sekali. Kata nini, aku sudah tertidur selama tiga hari, kadang menangis, tertawa, cekikikan terus menerus, ternyata aku keserupan arwah Neng Ai, ia menempati tubuhku selama tiga hari ini dan tadi sekitar dua jam yang lalu Neng Ai baru saja pergi, setelah ibu--nya datang dan memberikan maaf pada Neng Ai. Malam itu kami mengadakan doa bersama, untuk Neng Ai, agar tidak menganggu lagi.

Inspiresyen: Nightmare Side radio Ardan 105.9FM Bandung, setiap hari kamis dari pukul 22.00-24.00 wib. Bisa streaming lewat gadget kamu loh. Tapi ingat...Jangan prnah dengerin Nightmare Side sendirian, apalagi sama pacar orang. JANGAN! (

Perempuan Yang Dekat Dengan Kematian

Langit memerah. Burung-burung gagak berterbangan di atap rumah. Angin berputing. Bumi mendingin, dinginnya menjalari ketakutan. Gelap perlahan menguasai senja. Aku diam, tidak bergerak. Amarah memenuhi merajam-rajam hatiku dengan kerikil kehidupan yang entah.



***

Aku akan membunuhnya, bunda. Aku terduduk di meja makan, sudah beberapa jam aku mencoba tidur tapi kamarku terasa panas mungkin juga hatiku yang panas. Pikiranku melayang jauh. Tadi aku mencoba menenangkan bunda tapi nyatanya aku pun kacau tiada kira. Aku memeluk sebuah gambar yang baru ku buat, gambar yang penuh merah dan hitam. Gambar yang aku gambar dengan sakit hati tajam dan emosi yang meluap-luap. Sampai aku merasa ada sesuatu yang menikamku, bagian tubuh belakangku, menembus ginjal. Sakit menjalar. Tubuhku terasa basah, cairan itu hangat; darah. Mataku memberat. Mungkin tertidur. Mungkin juga hanya memejam. Pelan-pelan tubuhku ringan, melayang. Aku tidur. Udara semakin dingin. Tubuhku pun dingin.

***

Eve tertatih keluar kamar, dipanggilnya nama anaknya. Kenapa pagi ini begitu sepi; batin eve. 'Tyas, Tyas'. Eve mulai mencari ke segala penjuru rumah, didapati anak perempuan kesayangannya telungkup tidak bernyawa di atas meja makan. Tubuhnya penuh tusukan. Jantungnya berdetak beribu kali lebih cepat. Tubuh Eve mematung, nafasnya tertahan. Semua gelap.

***

2 minggu yang lalu keributan terjadi di sekolah. Ah apa yang terjadi dengan mereka, apa buat mereka ini aneh. Kenapa mereka heran dengan kelakuanku. Ada apa? Aku hanya mencekik seekor kucing kecil. Apa itu mengerikan. Kenapa guru-guru sepanik ini, apa ini sesuatu ketidak wajaran? Aku hanya ingin tahu. Ternyata tercekik seperti itu membuat kita kehabisan nafas. Mereka memanggil bunda dan menceritakan tentang ulahku, aku tahu bunda tidak akan marah. Ini biasa kami dapati di rumah. Bahkan aku rasa bunda adalah manusia yang paling dekat dengan kematian, ditampar, dihantam, ditinju atau pun ditunjang tepat di wajah itu hal yang biasa ia dapati. Bahkan pagi tadi, sebuah cengkraman kuat menjadi sarapan pagi untuknya, cengkraman di leher itu seperti hampir mematahkan tulang-tulangnya. Saat detik-detik nafasnya akan hilang, lelaki yang ku panggil ayah melepaskan dan melempar dia seakan dia hanya sebuah onggokan tak berarti. Ia berusaha mengambil nafas dari segala penjuru seperti ikan yang di keluarkan dari air. Mencoba terus bernafas dalam rasa sakitnya. Air mata menderas. Dia menangis, aku menangis. Kami berdua menangis memandangi punggung ayah yang berjalan pergi.

Kepala sekolah menanyakan apa yang terjadi padaku, lucu. Harusnya bunda yang menanyakan apa yang terjadi tadi. Tapi tidak, bunda hanya bisa diam. Sadar tidak akan mendapati jawaban apapun. Seperti sebuah pemakluman timbul dalam hati wanita yang menjadi pemimpin di sekolahku. Aku pun tahu, di kampungku orang-orang sudah tahu yang terjadi dalam keluarga kami. Jadi diam bunda adalah sebuah jawaban yang terbaca. Akhirnya hari ini aku diperbolehkan pulang lebih cepat.

Dalam perjalanan pulang kami sama-sama diam. Aku tahu ngilu masih mencengkram leher bunda. Masih ada ketakutan di matanya. Sesampainya di rumah air matanya menderas. Dia berjalan menuju gudang, mengambil sebuah rotan besar pemukul kasur. Matanya marah. Aku bergidik.

" Bunda, bunda. Maafkan Tyas"

tapi wanita itu terus berjalan mendekat. Dia berubah mengerikan. Dia memukulku dengan rotan besar.

"Anak kurang ajar! Anak setan! Kenapa kau seperti ayahmu. Kenapa kau!"

"Ampun bunda sakit bunda" rotan besar itu bertubi-tubi dipukulkan ke tubuh kecilku. Amarahku membesar, pelan-pelan mengakar.

 " Ayah, aku membencimu "

***

Malam terasa dingin, hujan deras di luar. Perempuan dalam cermin itu diam, tangannya terus menyisir rambut panjangnya secara perlahan, gerakannya selembut daun yang diterbangkan angin, begitu ringan beberapa kali terlihat tidak bernyawa. Kepedihan tergurat jelas di wajahnya, di tubuhnya. Aku tidak tahu siapa dia. Aku yakin itu bukan aku. Tubuh penuh lebam ini bukan tubuhku. Matanya menyala marah. Iya itu tubuhku. Waktu telah mengubahku.

Sebuah tangan kecil menarik ujung baju dasternya, iya menoleh ke bawah dilihatnya seorang anak perempuan kecil dengan crayon gambar, tangan dan tubuhnya penuh luka. Lebam. Matanya sembab.

"Tyas, kamu kenapa nak? Kenapa tubuhmu penuh lebam? Apa ayah memukulmu?"

"Tidak bunda, aku tadi hanya terjatuh"

Gadis perempuan itu berbohong tentang luka-luka yang didapatinya. Luka itu jelas ia dapati tadi siang. Dari sebuah rotan pemukul kasur yang dilibaskan seorang wanita yang melemparkan pertanyaan beberapa menit lalu. Tapi dia tidak mau melukai hati bundanya, cukup keadaan yang sudah melukai otaknya.

Aku tahu ada sesuatu yang sudah merusakmu dari dalam, bunda. Aku tahu tekanan itu pelan-pelan memakanmu. Kamu lebih rapuh dari sebuah kayu lapuk yang dimakanin ribuan rayap. Aku tahu kamu sakit, bunda.

'Bunda, aku lapar'

Wanita itu tersenyum, lembut. Mengajakku ke dapur. Membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran yang mulai membusuk. Diletakkannya di atas piringku dan piringnya. Lalu dia menuju tempat penyimpanan beras mengambilkan beberapa mug beras untukku dan dia. Ia memakannya dengan tatapan kosong, aku pun memakan makan malamku.

***

Malam itu kami tidur bersisian. Derit kipas angin berdebu cukup menghibur kesepian yang mengisi malam-malam kami.

" Apa kau mencintai ayah, Tyas?"

"Tidak, bunda. Aku takut. Bukankah cinta tidak menakutkan? Bagaimana denganmu? "

"Tidak tahu, aku bahkan tidak ingat apa pernah mencintainya. Bukankah cinta tidak memberimu rasa takut?"

Yang aku tahu, aku dan dia adalah sepasang anak muda yang melakukan kesalahan. Bermodal uang menginap di losmen murahan. Aku dan dia saling merengkuh kenikmatan yang sakit. Mungkin dulu, jauh sebelum aku takut. Aku pernah mencintainya, Tyas. Aku mengandungmu. Lalu aku mengadu pada orangtuaku. Mereka malu. Mereka meminta kami untuk segera menikah. Dia menolak saat aku mengatakan yang dikatakan orangtuaku padanya. Aku pulang dan menyampaikan penolakannya. Orangtuaku murka. Malam itu kami mendatangi rumahnya. Berbicara langsung pada orang tua nya. Bermodal sama-sama ingin menyelamatkan muka. Pernikahan aku dan dia diputuskan mereka, orangtua kami. Malam itu matanya gelap, dia begitu marah. Aku tidak paham kenapa dia menatapku begitu marah. Dia menuruti orangtuanya dengan kemarahan. Dia menikahiku tapi dia begitu membenci pernikahan kami. Setelah hari itu dia berubah, terus berubah.

***

Ibu-ku hidup seperti dalam sebuah naskah cerita yang begitu menderita, yang bertokoh perempuan yang selalu tersiksa dan penuh luka.

Pagi dengan keributan mengerikan, sebuah gelas melayang ke wajah bunda. Jelas aku melihatnya. Seperti biasa, tidak sampai di situ. Ayah terus memukulinya. 30 menit yang lalu, ibu ku meminta sejumlah uang untuk uang sekolahku dan membeli beberapa bahan makanan. Kulkas kami kosong, beras saja yang tersisa dan beberapa sayur yang sudah benar-benar busuk di kulkas. Mungkin itu menyinggungnya. Ayah begitu marah. Memukuli bunda. Ayah menendang perutnya, menyiram secangkir teh yang masih panas ke tubuhnya. Bunda hanya bisa tercekat. Tidak bisa menangis. Tidak juga bersuara. Hanya tatapan kosong penuh luka dan kesakitan yang menganga di dada. Ia memakan kesedihannya.

Setelah ayah pergi aku keluar. Membawa setengah baskom air hangat kuku dan sepotong handuk kecil untuk mengompres luka bunda. Aku mengusap perlahan, setiap usapan itu menyakitkan hatiku. Tapi tidak sedikit pun bunda bergeming. Tidak menangis tidak pula meringis. Diam. Mungkin sakitnya sudah sangat dalam. Air mata itu pun memendam. Kemarahan dalam dadaku mengakar. Menancap kuat. Sangat kuat. Aku menangis.

***

Aku tidak mau makan, bunda. Aku tidak lapar. Tyas berbicara dengan gemetar. Tetapi wanita itu tetap berjalan perlahan ke dapur. Memotong-motong sayuran busuk mencampurnya dengan air panas dan mencampur beras ke dalamnya.

"Makanlah, Tyas" aku menyuruhnya sambil menyuapkan makanan yang sama ke dalam mulutku. Tyas diam, tidak memakannya.

"TYAS!! MAKAN" aku melemparkan piring ke wajahnya. Dia tergugu. Tidak menangis, tidak juga meringis. Aku menendang dan memukulinya. Tyas diam. Aku memecahkan semua piring. Semua yang bisa aku pecahkan. Aku lelah. Aku masuk ke kamarku. Aku bersembunyi di sana. Aku tertidur.

***

Langit memerah. Burung-burung gagak berterbangan di atap rumah. Angin berputing. Bumi menjalarkan dingin yang tidak biasa. Gelap perlahan menguasai senja. Malam sudah datang.

Amarah di dada wanita itu masih ada. Entah pada siapa. Tapi amarah ini benar-benar membuatnya sakit. Dia kesal. Dendamnya yang mengakar seakan sudah pada puncak-puncak lepas. Tidak lagi ada pengendalian diri yang bisa dia lakukan. Tubuhnya panas. Matanya panas. Air mata nya menderas. Dia bisa menangis lagi. Perlahan ia keluar menuju dapur. Jalan terseok-seok. Tanpa tenaga dan perut laparnya.

"Laki-laki bangsat. Kenapa tega kau minum darahku?" Pertanyaan dilontarkan ntah pada siapa.

Sesampainya di dapur dia duduk. Diam. Tidak mengerjakan apapun. Perutnya lapar. Dia sangat lapar. Sangat sakit pula di hatinya. Digenggamnya sebuah pisau dapur tajam. Genggaman yang kuat, seakan tidak akan pernah melepaskan pisau itu. Perlahan dia berjalan menuju meja makan. Di meja itu terduduk seseorang. Seseorang yang diam dan tidak tahu kedatangannya. Amarahnya kembali hidup.

"Anak setan, ini semua karena kau. Jika kau tidak ada saat itu. Jika kau mati dalam kandunganku. Aku dan Anakku tidak akan menderita" batinnya mengila.

Sebuah tusukan tepat menembus ginjal, dicabutnya dan ditusukan lagi. Dicabutnya dan ditusukannya lagi. Gadis kecil itu diam. Tidak menangis, tidak juga meringis. Rasa panas yang menjalari tubuhnya tadi perlahan berubah dingin. Matanya berat. Rasanya melayang. Tyas kecil tertidur di atas goresan gambar merah hitam yang baru saja digambarnya. Darah masih mengalir deras, pelan-pelan tubuhnya dingin. Eve hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Lalu kembali ke kamar dan tidur. Sampai hari menghantarnya pada sebuah pagi dengan keterkejutan yang luar biasa.