Sabtu, 26 Juli 2014

[FF] - Kosong

Patah hati jelas bukan hal yang mudah, itu sering kali membuat kita kacau. Kehilangan selera makan, kehilangan hasrat ingin melakukan apapun. Menatapi yang berhubungan dengan dia lama-lama, dan merasakan perih di ulu hati yang teramat sangat.

Aku duduk, menghadap jendela di sebuah caffe tua pinggir kota. Mozaik-mozaik hujan tampak kabur di mata, iya di mataku pun kini sedang ada genangan serupa. Hujan yang turun terasa lebih perih di hati. Aku merasa diriku lusuh, tulang-tulangku lemas, lemah. Aku kehilangan harapan.

Dua puluh empat jam lalu sebuah undangan merobek-robek hatiku, undangan pernikahan seseorang yang masih kuanggap kekasihku, walau kenyataannya dia tidak menganggapku begitu. Tulisan-tulisan yang tersusun begitu menyakitkan mata, menyakitkan hati, menghentikan desir aliran darah dan mengacaukan saluran pernafasanku. Dunia terasa sesak.

Kembali terputar masa-masa dengannya, duduk di caffe tua ini. Caffe tua pinggir kota, di depan sebuah sungai kecil mengalir dekat kampus kami. Dulu kami sering bercengkrama di sini. Aku bahkan masih mendengar tawa kami. Begitu menyakitkan setiap waktu yang berjalan ini.

Udara dingin menusuk tulangku, membuat aku ingin ke kamar mandi. Aku ingin berkaca, mencari rupaku. Seberapa buruk aku terlihat di pantulan itu.

Aku berjalan, tubuhku yang gemuk ini seolah terasa sangat ringan. Andai aku memiliki tubuh seindah gadis itu, gadis yang kini kau sanding di pelaminan bersamamu.

Aku berjalan, bergerak seperti tidak bernyawa, aku tidak berhasrat untuk apapun. Sesampai di kamar mandi, semua sepi. Ruangan ini lebih longgar untuk bernafas, di sebuah pojokan kupandangi gadis kurus pucat. Wajahnya dingin. Tapi aku tidak peduli, begitu pun dia. Aku sedang begitu malas bertegur sapa.

Aku mencari westafel, aku ingin membasuh wajahku dengan air, aku ingin dingin ini bertambah, saat beku orang akan mati rasa, bukan? Aku memutar kran air pada westafel tua yang tak terawat, rasanya begitu keras. Entah aku yang saat ini begitu lemah, berkali-kali aku mencoba, tetap tidak bisa. Aku lelah. Kutegakkan kepalaku, mencoba mencari pantulan buruk rupaku di cermin. Kosong. Tidak ada wajahku di sana.

*

DUA PULUH EMPAT JAM YANG LALU, DI PEMAKAMAN.

"Apa kabarmu? Apa kau sehat? Aku merindukanmu. Kau tahu tahun-tahun begitu berat saat kau tidak lagi bersamaku, aku mengalami patah hati yang sangat. Setelah kecelakaan itu"

Pria itu menarik nafas berat, terus berbicara pada batu nisan yang diam. Batu nisan wanita yang dulu kekasihnya.

"Sayang, aku akan menikah. Aku harap kau tidak bersedih dengan kabar ini, aku akan terus mencintaimu, dia pun tahu aku sangat mencintaimu"

Lelaki itu bangkit, setelah meletakkan selembar undangan penikahannya. laki-laki itu berlalu. Melangkah menjalani hidup baru. Wanita mati itu patah hati tanpa ia tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar